Followers

Thursday, December 26, 2013

Pembelajaran dari Kisah Seorang Bayi



Tidak ada insan yang bisa memilih hendak dilahirkan dari rahim siapa. Tidak ada insan yang bisa memilih hendak dilahirkan dengan cara bagaimana. Tidak ada insan yang bisa memilih untuk menentukan nasib hidupnya. Semua itu pemberian Tuhan. Tapi yang saya yakini adalah setiap orang wajib bertanggung jawab atas adanya kehidupan yang diberikan kepadanya.
Hati ini sedih ketika suatu malam, di awal bulan ini, ada pasien datang ke rumah kami. Bidan desa kami mengantar seorang ibu muda, 16 tahun, akan melahirkan dengan umur kehamilan sekitar 6 bulan. Jangan ditanya bagaimana kisah kehamilan ibu muda ini. Hb rendah, tablet Fe jarang diminum, maka jangan heran jika bayinya hanya 900 gram. Saya hanya diam melihat bayi itu. Begitu kecil, sampai-sampai dokter kami begitu khawatir menggendong bayi ini, takut kalau terlalu erat menggendong. Bayi ini terpaksa keluar sebelum waktunya, terpaksa berjuang begitu berat untuk bernapas karena parunya mungkin saja belum sempurna, terpaksa berjuang menghadapi dinginnya udara Tosari. Saya sedih melepas bayi itu dirujuk. Saya menyayangkan melihat dia harus dilahirkan dari ibu muda yang belum berpengalaman.
Peristiwa seperti itu tidak bisa ditutupi memang terjadi. Hanya segelintir yang ketahuan, entah berapa banyak yang tersembunyi. Memang ada banyak hal yang menyebabkan terjadinya kehamilan pada perempuan-perempuan yang belum siap mengalaminya, salah satunya adalah pengetahuan akan kesehatan reproduksi remaja. Banyak remaja masih berpikir bahwa, "Melakukan sekali, tidak akan membuat hamil." Dan saya masih belum menemukan jawaban mengapa pemerintah belum juga menetapkan standar pemberian pendidikan kesehatan reproduksi dalam kurikulum. Butuh berapa keterlambatan lagi untuk membuktikan pentingnya pemberian pendidikan kesehatan reproduksi sejak dini? Jika seorang ibu belum siap hamil dan melahirkan, tidak cukup pengetahuan tentang kehamilan dan persalinan, jangan ditanya kualitas hidup anak yang dilahirkannya. Pilihannya ada 2, si bayi bertahan hidup dengan perawatan seadanya atau sebaliknya.
Dari sini saya belajar, sebuah kehidupan merupakan pemberian Tuhan dan manusia punya tanggung jawab atas itu. Sebuah pernikahan, kehamilan kemudian persalinan, menjadi cara Tuhan memelihara siklus kehidupan manusia. 
Setahun kami di sini, entah bisa berapa banyak pengetahuan yang bisa kami bagikan supaya sebuah siklus itu bisa dipersiapkan dengan baik. Kami mencoba "melindungi" sebanyak mungkin remaja supaya memiliki kesehatan reproduksi yang baik. Kami menggerakkan Laskar Pencerah Tosari, sekumpulan remaja SMP-SMA yang memiliki semangat tinggi untuk belajar, untuk menjangkau teman-teman sebaya mereka. Melalui mereka, kami menyampaikan pesan-pesan kesehatan reproduksi remaja lewat media-media hasil kreativitas mereka. Sebuah project kami berikan untuk Laskar Pencerah Tosari: Membuat Media Promosi Kesehatan Reproduksi Remaja. Kami bagi mereka jadi 4 kelompok yaitu: kelompok poster, kelompok leaflet, kelompok lembar balik, dan kelompok lagu. Sementara mereka mengisi libur semester mereka dengan mengerjakan project dari kami, kami melakukan pendekatan untuk advokasi ke sekolah supaya sekolah mengizinkan media-media tersebut disebarkan di semua SMP dan SMA di Tosari. Puji Tuhan, beberapa sekolah yang sudah kami dekati merespon baik. Bahkan, ada 1 SMA yang memberikan kami kesempatan untuk menyampaikan mengenai kesehatan reproduksi remaja pada orangtua siswa saat penerimaan siswa baru. 
Melihat semangat dan kreativitas anggota Laskar Pencerah, serta dukungan luar biasa dari pihak sekolah, menimbulkan semangat sekaligus menjaga harapan kami. Semangat untuk membuat Tosari makin sehat dan harapan bahwa remaja di Tosari tetap mampu "dilindungi" sehingga masa depan mereka tidak harus rusak dengan hal yang belum siap mereka hadapi. 
Kami meyakini bahwa masa depan Tosari tergantung pada masa depan generasi mudanya. Siapa lagi yang akan mengusahakan kesejahteraan Tosari kalau bukan generasi mudanya? Maka inilah yang kami usahakan bersama anggota Laskar Pencerah. Menyebarkan sebanyak mungkin informasi mengenai kesehatan reproduksi remaja. Menyebarkan sebanyak mungkin ajakan untuk bertanggung jawab atas kesehatan reproduksi para remaja di sini. Mungkin hasilnya tidak akan terlihat sepanjang setahun kami mengabdi di sini. Tapi biarlah apa yang kami lakukan bisa memupuk harapan kami pada para remaja Tosari. 
Ketika saya merenungkan lagi kisah seorang bayi tadi, saya hanya bisa menyampaikan ucapan terima kasih saya dari hati, "Hei, Nak... terimakasih ya sudah membuat kami belajar.. Seberapa lama hidupmu, kami percaya bahwa tidak ada yang sia-sia dari sebuah kehidupan, selalu ada pembelajaran dari sebuah kehidupan. Terima kasih karena sudah menjadi pembelajaran bagi kami. Terima kasih sudah menjadi inspirasi bagi kami..."

Salam sehat,
Kinanthi Estu Linadi, S. KM

Monday, December 2, 2013

Menebar Semangat Sehat di Tosari : Senyum Sehat Bromo



Sinar matahari adalah salah satu barang langka yang dicari-cari di Tosari, apalagi saat musim hujan seperti ini. Luar biasanya, dua bulan masa tugas Pencerah Nusantara ditutup dengan hari penuh limpahan sinar matahari, di hari ini pula berlangsung kegiatan Senyum Sehat Bromo.




Senyum Sehat Bromo adalah sebuah kegiatan bakti sosial yang dimotori oleh Pencerah Nusantara dan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Kabupaten Pasuruan, kami juga belerjasama dengan pihak kecamatan Tosari dan Puskesmas Tosari. Dari temanya, terlihat bahwa kegiatan ini berfokus pada kesehatan gigi dan mulut. Harapan terbesar kami meluncurkan Senyum Sehat Bromo adalah membuat masyarakat Tosari benar-benar bisa tersenyum karena gigi dan mulut mereka yang senantiasa sehat.

Dalam proses persiapan selama satu bulan, banyak kejadian nano-nano yang kami alami. Mulai dari menyebar undangan dan kupon ke seluruh desa di Tosari hanya dalam tempo satu hari, membuat janji kilat dengan bapak penjual balon di malam pementasan Ludruk, bapak yang bahkan kami tidak memiliki kontaknya sampai hari H (untungnya bapak ini berbaik hati mau benar-benar naik ke Tosari),  hingga malam yang membuat jari kami keriting karena harus mengemas bingkisan untuk 500 anak SD peserta gosok gigi masal.

membungkus 500 bingkisan untuk siswa SD di tengah mati lampu

 Sampai akhirnya tibalah hari Sabtu, tanggal 30 November 2013. Pagi super cerah menyambut kami. Di tengah persiapan di pos masing-masing, kehadiran siswa-siswi SD Wonokitri yang akan menampilkan marching band kebanggaan mereka memecah heningnya lapangan. Mereka datang menaiki pick up dengan yel-yel yang cetar membahana. Tak lama kemudian, satu per satu SD datang dengan guru-gurunya, lapangan puskesmas Tosari pun riuh dengan wajah-wajah ceria dan suara anak-anak. Sekitar 500 anak SD dari 6 SD di kecamatan Tosari bersama-sama mengikuti gosok gigi masal dan senam cuci tangan bersama. Ibu Bupati Pasuruan membuka acara ini dan mengajak anak-anak untuk menyanyi bersama lagu gosok gigi, Pencerah Nusantara menjadi instruktur senam cuci tangan, sedangkan para dokter gigi mengajari cara gosok gigi yang benar sembari praktik secara langsung.
aksi SD Baledono 1 : seluruh siswa naik truk, seluruh guru juga ikut serta mendampingi

 
Marching Band Wonokitri : cetar membahana !
Pembukaan Senyum Sehat Bromo : Pelepasan Balon oleh Ibu Bupati Kabupaten Pasuruan
 
Senam Cuci Tangan Bersama
Praktik Gosok Gigi yang Benar
Di pos yang lain, berlangsung pula pengobatan gratis umum dan gigi. Antusiasme masyarakat Tosari cukup besar di kegiatan ini. Ada lebih dari 100 orang yang hadir dan mendapat pelayanan. Pengobatan gratis adalah salah satu cara meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengakses tenaga kesehatan. Karena dalam pengobatan gratis masyarakat juga diedukasi untuk datang ke puskesmas apabila memiliki keluhan pada kesehatannya.

Pos terakhir dari kegiatan Senyum Sehat Bromo adalah penyuluhan tentang kesehatan gigi dan mulut ke ibu-ibu PKK desa Tosari. Ibu memiliki peran yang sangat krusial bagi perkembangan anaknya maupun kebiasaan anggota keluarga yang lain. Dengan diadakannya penyuluhan bagi ibu-ibu PKK di Tosari, diharapkan keluarga si ibu dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh di keluarga dan menjadikan hal tersebut sebagai kebiasaan, baik bagi diri ibu maupun anggota lain di keluarga.


Penyuluhan Ibu-ibu PKK

Senyum Sehat Bromo adalah sebuah pemantik yang membuat kami semakin berkobar untuk menebarkan semangat sehat ke masyarakat Tosari.
Salam Sehat !

Bani Bacan Hacantya Yudanagara, S.Psi
@banibacan


Thursday, November 28, 2013

Semua tentang Semangat Mereka (Late Post)

Kali ini, saya akan menceritakan apa yang saya janjikan. Posting tentang semangat-semangat yang kami temui dari mereka yang ada di Tosari. Posting yang terlambat sebenarnya, tapi semoga tidak mengurangi pesan yang ada di dalamnya. Kejadian ini berlangsung sebelum peristiwa mengejar SBY dan Budiono (postingan Bidan Intan http://pencerahnusatosari.blogspot.com/2013/11/bias-bulan-imunisasi-anak-sekolah-edisi.html). 
Kejadian pertama adalah ketika kami mengunjungi SD Kandangan 2. SD Kandangan 2 adalah sebuah SD yang ada di dusun amat terpencil di kecamatan Tosari, Dusun Pandansari (bisa cek http://pencerahnusatosari.blogspot.com/2013/11/edisi-blusukan-tosari.html). Dusun ini sulit dilewati oleh sepeda motor biasa, mungkin bisa bagi warga Tosari tapi sangat berisiko jatuh dari motor. Jalan macadam licin dan naik-turun jadi tantangan di hari itu. Jadilah motor kami titipkan di rumah salah seorang guru tidak tetap di dekat Kantor Desa Kandangan. Dan kami berjalan dari tempat kami menitipkan motor kami. Jaraknya? Kurang lebih 1 jam jalan kaki. Ya, jalan kaki....

The Girls and Pak Darto, di jalan yang masih cukup rata
Sepanjang jalan itu, ada banyak keindahan yang kami lihat. Keindahan yang mengiringi setapak demi setapak langkah kami. Dari jalan yang masih rata, hingga memasuki daerah berbatu. Pak Darto, juru imunisasi Puskesmas, menceritakan pengalaman pengabdiannya dari tahun 1987, melewati jalan itu dan berkata, “Ini sudah jauh lebih baik, Mbak Kinan. Sudah bisa dilewati sepeda (red: motor).”
Oke, ketika saya membayangkan betapa sulitnya keadaan waktu itu, saya mengacungkan jempol saya pada Pak Darto. 

Keindahan, teman mengurangi kelelahan

Kota Malang, nun jauh di sana

Persahabatan Lebah dan Bunga Matahari

Bunga Liar yang Kecantikannya Tiada Tara

Taman Nasional Gunung Bromo

Bunga Liar Pemanis Semak Belukar

Rimbun

Keadaan jalan yang makin sulit membuat tenaga kami berkurang banyak. Tapi Pencerah Nusantara harus bisa melewati itu. Ada 24 siswa SD Kandangan 2 yang menanti kami memberikan penyuluhan, pemeriksaan kesehatan, dan imunisasi di ujung sana. Kami harus terus bersemangat berjalan.

Mulai macadam

Dan sekolahnya masih juauuuuh di ujung sana

Sepatu pink yang siap menerjang macadam

Ncan, menempuh macadam

Intan, menempuh macadam

Pencerah Nusantara, menempuh macadam
Sekali lagi, yel-yel hasil pelatihan di Akmil cukup ampuh mengurangi rasa lelah dan kembali memicu semangat berjalan.
“Mantapkan hati tak perlu bimbang. Maju untuk berjuang. Walau rintangan datang menghadang, kamipun pantang mundur.”
Yaah, walaupun kami menyanyi dengan agak ngos-ngosan karena lelah mendaki, setidaknya kami masih sanggup berjalan dengan tambahan tenaga setelah kami menyanyi :D
Sesampainya di area macadam, semangat kami kembali diuji. Kaki mulai terasa pegal dan keringat bercucuran. Keindahan alam masih setia menemani kami. Namun lelah membuat kami sedikit lebih diam. Kamipun berjalan dalam ketenangan, menyimpan tenaga sebanyak yang kami bisa.
Akhirnya setelah kurang lebih 1 jam berjalan, kami sampai juga di SD Kandangan 2. Senang rasanya mendengar suara anak-anak dari kejauhan dan akhirnya bisa mencapai sekolah mereka. Kami disambut para siswa dengan toss tanda persahabatan. 

Tossss!!!
Senyum para guru mengembang menyambut kami.
“Bagaimana perjalanannya?” tanya seorang guru pada saya.
“Wah, luar biasa, Pak.. Saya berasa outbond,” jawab saya, masih ngos-ngosan, sambil lanjut bertanya, “Rumah’e Bapak ndek mana?”
“Di Sidoarjo, Mbak,” jawab guru itu kalem.
“WOW...!! Sidoarjo, Pak? Tiap hari Bapak naik ngajar?!” tanya saya, terkejut.
“Iya, Mbak. Ya gimana kalau nggak ngajar tiap hari? Guru di sini Cuma 2, Mbak yang orang sini. Lainnya ada yang rumahnya di Malang, Mojokerto juga ada.”
Sekali lagi saya dibuat kagum oleh para pahlawan tanpa tanda jasa di Kecamatan Tosari. Semangat mengajarnya itu, mengalahkan jarak dan lelah. Sungguh, saya belajar banyak tentang makna pengabdian dari para pahlawan tanpa tanda jasa ini.
Setelah sedikit berbincang dengan guru dan kepsek, kami mulai kegiatan. Kami memberikan penyuluhan PHBS pada siswa-siswa, mengajari mereka senam cuci tangan, mengajari tepuk anak sehat, dan senam trekjing.
Ada 1 anak laki-laki yang mencuri perhatian saya. Seorang siswa, kelas 6, berani dan sopan, pintar memimpin teman-temannya untuk berbaris, cita-citanya menjadi astronot.
“Oke, kamu boleh jadi astronot. Nanti, tancapkan bendera merah putih di bulan ya, dek,” ujar saya menyemangatinya. Dia hanya mengangguk, tanpa kata tapi mantap. Saya suka sekali dengan semangatnya. 



Calon astronot favorit saya (:

Dan tak lupa semangat siswa yang lain. Berbaris rapi menunggu giliran imunisas. Tidak ada yang menangis. Semua semangat untuk jadi sehat. Semua semangat mengikuti gerakan senam cuci tangan yang kami contohkan. Semua semangat mengikuti penyuluhan PHBS yang kami berikan.
Semangat gurunya lebih luar biasa lagi. Selesai kegiatan, kami foto bersama. Sebelum foto, seorang guru memberikan instruksi para siswa menyanyikan yel-yel SD Kandangan 2. Saya terkesan dengan sebait lirik yel-yel mereka. Kurang lebih seperti ini:
“Kata orang mencari ilmu itu mulia... Bagaikan mencari emas permata... Gunung lembah kudaki tanpa lelah...”

Bidan Intan and the Kids

Mutiara Pandansari yang Menunggu untuk Ditemukan

Berbagi samangat bersama Pencerah Nusantara

Semangat Gurunya, Semangat Muridnya



Terharu mendengar anak-anak ini bernyanyi dan bertepuk tangan. Ah, Tuhan... Semoga Engkau berkenan memberikan kesempatan pada mereka untuk mereka sekolah setinggi-tingginya.

Cerita kedua adalah tentang semangat peserta Sosialisasi dan Pelatihan Pengolahan Sampah Organik dan Anorganik yang kami laksanakan tanggal 25 November bersama dengan Tim Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan. Awalnya kami sempat ragu akan kedatangan peserta mengingat mayoritas peserta adalah petani yang harus ke ladang serta keadaan cuaca yang hujan tidak menentu.
Tapi ternyata kekhawatiran kami sirna. Ada 30 dari 40 undangan datang dan kami bersyukur untuk itu. Ketiadaan TPA di Kecamatan Tosari menjadi sumber permasalahan pengelolaan sampah. Keberadaan Tosari sebagai desa wisata tentu harus ditunjang dengan kebersihan lingkungan yang bebas sampah. Kebiasaan masyarakat yang masih banyak membuang sampah di jurang belakang pasar juga menjadi latar belakang kami mengusulkan kegiatan ini.
Setelah segala persiapan dilakukan, menyebar undangan di 8 desa, meminjam mesin jahit, koordinasi dengan para inggih, koordinasi dengan kecamatan, akhirnya semuanya siap. Pembicara yang sudah ahlipun memaparkan teknik komosting dan daur ulang yang benar dengan semangat. Tanpa diduga, antusiasme peserta ternyata luar biasa. Para bapak kelompok tani semangat mempelajari teknik komposting dengan menggunakan takakura, dan para ibu PKK semangat mempelajari cara daur ulang sampah plastik bekas bungkus indom*e, bekas bungkus minyak fil*a, bekas bungkus sabun rin*o dan mol*o, menjadi berbagai macam kerajinan yang cantik dan bernilai ekonomi. Para ibu semangat sekali mempelajari cara melipat bungkus indom*e supaya bisa dirangkai menjadi tas cantik.
“Akhir’e isun bisa. Maune isun ndak bisa tapi isun mau nyoba terus akhir’e bisa,” ujar seorang ibu dengan gembira karena akhirnya berhasil melipat bungkus indom*e setelah berulang kali mencoba.
Wacana mengenai gethok tular dan pengadaan bank sampah menjadi tindak lanjut dari pelatihan ini. Para trainer juga memuji semangat para peserta. Semoga hal kecil yang kami lakukan ini pada akhirnya bisa memantik semangat masyarakat mengurangi sampah yang ada di Kecamatan Tosari.

Sekian cerita semangat yang bisa saya bagikan. Akan ada lanjutan cerita mengenai pelaksanaan Peringatan Hari Kesehatan Nasional ke 49, Kegiatan “Senyum Sehat Bromo” kerjasama PDGI Kab. Pasuruan dengan Pencerah Nusantara Tosari tanggal 30 nanti. Tunggu yaa.....!!


Salam sehat selalu,
Kinanthi Estu Linadi, S.KM


Tuesday, November 26, 2013

BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah) Edisi Mengejar Budiono dan SBY


Bulan ini kami disibukkan dengan imunisasi ke sekolah-sekolah. Setelah seluruh SD se-kecamatan Tosari 16 SD berhasil di imunisasi dengan beragam kelucuan mereka yang masih lekat diingatan kami, kini kami beranjak menuju SMP. Mulai dari SMP yang terdekat dari Puskesmas, yaitu SMP Baithani. Siswa SMP biasanya lebih susah untuk diimunisasi. Banyak yang takut dengan jarum suntik. Setelah perlengkapan siap, kami melangkahkan kaki menuju SMP seberang. Dan cerita pun dimulai....

Rasanya menggelikan. Kejar-kejaran dengan anak SMP yang pada kabur takut diimunisasi. Ada yang bersembunyui di kamar mandi dan kabur entah kemana.

Setelah mereka yakin bahwa yang menyuntik adalah mba'-mba'....akhirnya mereka mau untuk disuntik. Semua antri di depan saya.

Disini kami bertemu dengan anak SD bernama SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Langsung maju minta disuntik. Keren... berani seperti Presiden. Kami juga bertemu dengan Budiono. Yang menggelikan adalah saat Budiono minta disuntik dan ketika jarum mendekat dia bergerak dan menolak dengan hebat.
Setelah dicoba berkali-kali dia tetap menolak. Sampai akhirnya Budi dibawa ke kantor guru. Budi menyatakan mau disuntik, namun..ketika jarum telah mendekat ia berontak.

 Setelah kita menyerah, Mas perawat Satria bertanya "suntik sama pak Darto ae wes"?, Budiono menjawab "moh..karo mba' seng mau ae wes" (gag mau..sama mba' yang tadi aja. red)..kata Budiono dengan polosnya.

 Saya pun mendekat dan menawarkan "mau suntik dimana?"...

"disana aja mba'"...kata Budiono sambil menunjuk ruang BP.

kemudian saya membawa Budiono ke ruang BP. Berdua saja. (krik..krik.....kalau tau begini saya rayu saja dari awal, tak perlu repot...)

Dan...cus.......jarum berhasil menembus kulit Budiono. Dengan polosnya Budiono bertanya "sudah mba'?",....

"iya sudah...ga sakit kan......", sambut saya..

Budiono hanya tersenyummm...menyusul SBY sukses disuntik.



Intan Hajar Fauzanin
Bidan Tm Tosari

Wednesday, November 20, 2013

Edisi Blusukan Tosari

Masih dalam rangkaian Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), giliran kami mengunjungi salah satu SD paling terpencil di Kecamatan Tosari, SD Ngadiwono 2. Terletak di Dusun Banyumeneng, Desa Ngadiwono, salah satu desa yang paling sulit dijangkau. Ambulans hijau Puskesmas siap mengantar kami menuju ke SD tersebut. Awalnya, perjalanan masih lancar karena jalan mulus aspal sampai Dusun Ngadiwono. Namun begitu masuk ke Dusun Banyumeneng, jalan macadam siap menyambut kami. Macadam adalah jalan sempit yang masih belum diaspal, hanya tanah liat dan berbatu-batu. Sebelah kiri kami jurang, sebelah kanan tembok tanah dengan berbagai macam vegetasinya. Pak Soleh, driver andalan kami, terlihat sudah terbiasa dengan medan yang ada, tapi tetap waspada. Kondisi jalan sehabis diguyur hujan, menjadi licin dan sering membuat mobil ambulans sedikit selip. Jangan tanya bagaimana kondisi kami di bagian bangku belakang ambulans. Perawat kami sampai tumbang karena berguncang-guncang isi perutnya. Badan kami terlempar beberapa kali karena goncangan laju ambulans. Ke kanan, ke kiri, dan tidak jarang sedikit terlempar ke atas. Dalam pikiran saya, bagaimana jika ada ibu hamil yang mau melahirkan di sini??
video

video


Setelah menempuh perjalanan yang luar biasa (bisa dibayangkan dari goncangan dalam 2 video singkat kami), sampailah kami di SDN Ngadiwono 2. Sekali lagi kami menjumpai para pahlawan tanpa tanda jasa di tempat ini.
“Kalau di sini itu, bukan siswa yang nunggu gurunya tapi guru yang nunggu siswanya.”
Kira-kira begitu ujar salah seorang guru SDN Ngadiwono 2. Artinya, jumlah murid di sana memang tidak banyak. Bahkan, tidak jarang mereka yang harus menunggu siswanya datang. Maklum, sebagian besar siswa mereka tinggal di Dusun Ketuwon, masih sedikit jauh dari Dusun Banyumeneng. Sulitnya medan membuat para murid mereka harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. 
"Makanya anak-anak jarang ada yang kelihatan bersih, Mbak. Karena ya itu tadi, berangkatnya sudah kotor lewat tegal. Kadang kalau hujan ya kami ndak memperbolehkan mereka pulang dulu. Bahaya jalannya..."
Seperti biasa, saya masuk ke kelas 1 untuk memberi penyuluhan. Ada 12 siswa, semuanya tidak banyak bicara, tidak seperti kebanyakan siswa SD lainnya yang cenderung aktif. Maka, saya mencoba memberikan informasi PHBS sesederhana mungkin. Mendorong mereka untuk ingat menggosok gigi, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mandi 2 kali sehari. Kemampuan bahasa Tengger minimalispun saya gunakan semaksimal mungkin agar mereka mengerti pesan yang disampaikan.
Pemeriksaan kesehatanpun dimulai. Sementara dr. Maria melakukan pemeriksaan kesehatan, saya sedikit mengobrol dengan guru kelas 1.
Kinan (K): Ibu udah berapa lama ngajar ndek sini?
Ibu Guru (IG): Masih 10 tahunan, Mbak
K: Waah, udah lama banget... Masih kerasan bu?
IG: Haha, ya masih, Mbak. Kalau bukan orang Ngadiwana sendiri yang ngajar ndek sini ya siapa lagi yang bisa bikin mereka jadi lebih baik? (Dua jempol saya untuk Ibu Guru ini...!!)
K: Betul, Ibu... Pengabdian.
IG: Iya, Mbak. Pengabdian. (Sekali lagi saya belajar tentang apa itu pengabdian)
K: Ibu kelau berangkat gmn? Kan jalannya kayak gitu?
IG: Ya naik motor, Mbak. Mau gimana lg. Anak-anak itu kalau berangkat malah jalan kaki nglewatin tegal-tegal. Makanya ini masih untung banget mereka masih mau sekolah. Tahun ini ada yg umur 10 tahun baru masuk kelas 1. Ya sudah begini ini Mbak keadaanya.
K: Wah, luar biasa. Semangat terus nggih, Bu?
IG: Ya harus semangat, Mbak.
Hati saya diam-diam bersyukur bisa belajar dari ibu guru ini. Semangatnya, keyakinannya untuk meningkatkan derajat hidup siswanya, ketekunannya, kerelaannya berkorban, ...
Setelah imunisasi, saya menyempatkan main dengan anak-anak kelas 6. Di Kota, anak2 SD mungkin sudah menghabiskan waktu istirahat dg ke kantin, main HP atau laptop. Di sini, anak2 menghabiskan waktu istirahat dengan bermain voli. Saya dan Syam ikut bermain sebentar. Tanpa diduga, permainan mereka luar biasa sekali. Saya cuma bisa terpana lihat mereka dengan lihainya melakukan passing demi passing dan berebut poin. Cara mereka bicara dengan kami, bahasa jawa krama halus. Ah, saya jatuh cinta pada anak-anak di SD itu.
Siswa Kelas 1, Laskar Pelangi dari Dusun Ketuwon

Siswa-Siswa Istimewa Hasil Didikan Para Guru Istimewa
Senyum Anak-Anak Pemberani

Kak Ncan Penyuluhan PHBS di Kelas 2-3

Ini Dia, yang Berani Senam Cuci Tangan di Depan Kelas (:

Setelah cerita dari Banyumeneng, saya kembali menelusuri desa-desa yang jauh di Tosari untuk mengantar surat Undangan Pelatihan Pengolahan Sampah Anorganik dan Organik. Ya, masalah sampah di sini memang masih menjadi PR untuk diselesaikan bersama. Ketiadaan TPA menjadi kendala terbesar pengelolaan sampah di sini. Perilaku membuang sampah di jurang tentu akan mengurangi keindahan Kecamatan Tosari sebagai daerah pariwisata. Itulah mengapa kami bersama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan berencana mengadakan Pelatihan Pengolahan Sampah Organik dan Anorganik untuk kelompok tani dan ibu PKK. Saya dan Ncan mendapat tugas untuk menyebar undangan ke Desa Ngadiwono, Mororejo, dan Kandangan. Hujan tidak menyurutkan langkah kami pergi, berkenalan, dan menyampaikan surat undangan kepada Pak Inggih (Singkatan dari Petinggi, sama dengan Kepala Desa) desa tujuan kami. Hujan memicu hawa dingin yang menusuk tulang. Tapi semangat dan harapan kami untuk membagi ilmu dengan kelompok tani dan ibu PKK mengalahkan rasa dingin. Walaupun harus pinjam sepeda motor tetangga karena motor dinas kami rusak, walaupun sempat tersesat di jalan karena kami bertanya arah 'Kandangan' tapi malah diarahkan ke 'Kandangsari' (2 tempat yang namanya hampir sama tapi letaknya sungguh jauh berbeda), tapi kami bersyukur Tuhan menyertai perjalanan kami. Bersyukur karena para Inggih ini menyambut kami dengan baik. Sekali lagi kami menyadari pentingnya membangun hubungan dengan tokoh masyarakat. Dalam perjalanan mengantar surat, tidak ada satupun keindahan alam Tosari yang kami lewatkan.

Masih ada 1 dusun yang menantang lagi yang menanti kami kunungi, namanya Dusun Pandansari. Ada SD Kandangan 2 di sana. Seperti apa ceritanya? Seperti apa pula keindahan alam sepanjang mengantar surat undangan? Dan bagaimana juga cerita jalannya Pelatihan Pengolahan Sampah yang dihadiri Kelompok Tani dan Ibu PKK di sini? Tunggu saja yaa (:

Salam Sehat dari Pencerah Nusantara Tosari!

Kinanthi Estu Linadi, S. KM