Followers

Thursday, September 4, 2014

Kader Posyandu : Pahlawan Kesehatan Tanpa Tanda Jasa

Dalam rangka ikut memeriahkan HUT RI ke 69, Tim Pencerah Nusantara Tosari tidak mau ketinggalan berpartisipasi. Kami berhasil mengajak Puskesmas Tosari dan bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK Kecamatan Tosari untuk mengadakan Lomba Balita Sehat dan Lomba Kader Posyandu Balita. Yang spesial kali ini adalah, Lomba Kader Posyandu Balita tahun ini merupakan lomba yang pertama kali diadakan lagi setelah lebih dari satu dekade tidak dilaksanakan. Maka, tidak heran jika para kader Posyandu balita sangat antusias menyambutnya.

Suasana Registrasi

Pembukaan Lomba
Lomba balita sehat terdiri dari 2 kategori : umur 6-12 bulan, dan umur 13-59 bulan. Masing-masing desa mengirim 1 perwakilan untuk masing-masing kategori, which is, desa juga kami libatkan untuk menyeleksi balita-balita yang ada di daerah mereka untuk diutus sebagai perwakilan desa. Penilaian dilakukan sesuai indikator pertumbuhan dan perkembangan balita sesuai usia. Juri lomba balita adalah Bunda Bidan Koordinator Puskesmas Tosari aka Bu Murtini dan Dokter Ketua Pencerah Nusantara aka dr. Maria.

Penilaian Balita Sehat
 Lomba untuk kader Posyandu balita lebih seru lagi karena kami melibatkan 5 kader untuk masing-masing desa. Hal ini untuk menyiasati pos-pos yang jumlah kadernya terbatas tanpa mengurangi keterlibatan desa untuk berpartisipasi. Alhasil, semua kader di desa bahu membahu memenuhi kuota peserta yang ditetapkan oleh Tim Pencerah Nusantara. Contohnya, kader pos Sedaeng yang hanya 2 orang, akhirnya dengan bantuan bu Inggi (kepala desa) melibatkan serta kader dari pos Moroseneng dan Wonokoyo (yang nun jauh di sana keberadaannya) sebagai utusan dari Desa Sedaeng. Luar biasa...!! Ada 3 lomba untuk kader Posyandu : Lomba penimbangan dan pencatatan (diikuti 1 kader), Lomba cerdas cermat (diikuti 3 kader), dan Lomba penyuluhan (diikuti 1 kader).
Penilaian Penimbangan
Pada lomba penimbangan dan pencatatan, kami menilai keterampilan kader dalam melakukan penimbangan balita dan pencatatan hasil penimbangan di KMS. Juri lomba ini adalah Bidan Pencerah Nusantara, Intan.
Pada lomba penyuluhan, kami menilai keterampilan dan kepercayaan diri kader dalam memberikan penyuluhan di Posyandu. Media lembar balik yang kami sediakan juga bisa dipakai untuk mempermudah kader memberikan materi penyuluhan. Sedikit yang kami sayangkan adalah, kader peserta lomba penyuluhan bukanlah kader yang datang saat pelatihan penyuluhan lalu. Maka, masih banyak kader yang tidak terampil menggunakan lembar balik. Tetapi, kami menghargai usaha dan keberanian para kader peserta lomba penyuluhan. Pak Marno, Pemegang Program Promkes Puskesmas Tosari sekaligus juri Lomba Penyuluhan, sempat memberikan masukan untuk para kader dalam memberikan penyuluhan di Posyandu. Pak Marno juga menunjukkan cara menggunakan lembar balik dengan benar menggunakan bahasa lokal yang dimengerti oleh para kader. Tidak lupa, apresiasi sedalam-dalamnya juga diberikan oleh Pak Marno untuk para kader yang dengan berani mengikuti lomba penyuluhan walaupun masih banyak kekurangan. Dengan kerendahan hati beliau mengakui bahwa setelah sekian lama tidak ada lomba penyuluhan, beliau terharu melihat semangat para kader berpartisipasi dalam lomba tahun ini. Bagi beliau, lomba kader tahun ini menjadi masukan sekaligus pembelajaran bagi Puskesmas Tosari untuk melihat potensi para kader, terutama dari pos-pos yang jauh sehingga mereka pun bisa diikutsertakan jika ada jambore kader di tingkat kabupaten.
Yang paling seru adalah lomba cerdas cermat. Sebanyak 8 desa diadu dalam mengerjakan soal tertulis dimana materi soal tertulis adalah seputar Posyandu, imunisasi, kehamilan dan persalinan, ASI eksklusif, gizi, dan diare. Setelah melalui proses koreksi, 3 tim dengan nilai tertinggi berhak masuk ke babak final. Babak final dilaksanakan setelah lomba penyuluhan selesai. Sembari menunggu ruangan dipersiapkan, bidan Intan memaparkan jawaban-jawaban benar kepada semua peserta agar semua kader mengetahui jawaban pertanyaan ujian tulis dengan benar. Secara umum, ternyata pengetahuan kader mengenai materi soal cukup baik, walaupun perlu dikoreksi di beberapa bagian. Misalnya pada pertanyaan "ASI yang keluar pertama kali dan berwarna kekuningan disebut....", beberapa kader serempak menjawab, "...kolestrum!" Seketika ruangan tempat lomba cerdas cermat jadi penuh dengan gelak tawa. "Yang bener KOLOSTRUM lho yaaa... Bukan KOLESTRUM..." ujar bidan Intan mengoreksi. Tak lama, final cerdas cermat pun dimulai.
Menjawab Soal Tertulis
Suasana mulai tegang. Peserta Tim Kandangan, Tim Baledono, dan Tim Tosari bersiap di meja masing-masing. Pertanyaan dijawab secara berebut dimana jika benar, tim akan mendapat poin 100, dan jika salah, tim akan mendapat pengurangan 10 poin. Kali ini, Kepala Puskesmas Tosari, dr. Agus Tri Cahyono, bertindak sebagai pembaca pertanyaan babak final. Semua peserta penuh semangat menjawab pertanyaan demi pertanyaan. Sampai akhirnya tiba di titik paling heboh....
dr. Agus : nah, ini pertanyaan yang paling sulit nih. siap-siap yaa...
(masing-masing peserta siap membunyikan kenong sebagai bel)
dr. Agus : siapa.... nama lengkap dokter Kepala Puskesmas Tosari?
Tim Tosari : (memukul bel dengan semangat)
dr. Agus : Tosari...?
Tim Tosari : ......
dr. Agus : yak, lempar
Tim Kandangan : (memukul bel dengan semangat) dokter Agus...!!
dr. Agus : Agus siapa nama lengkapnya?
Tim Kandangan : aduh... Agus sapa ya?
dr. Agus : yak, lempar.. Baledono gimana?
Tim Baledono: ..... (ga berani jawab)
dr. Agus : wah gimana ini? saya di sini udah bertahun-tahun ternyata masih belum terkenal.. saya kenalan lagi aja kalo gitu. nama saya Agus Tri Cahyono. jangan lupa yaa.. Tosari dan Kandangan min 10.
Tim Kandangan : waaah... gara-gara Pak Agus nilaiku dikurangi. gantian, Pak. sebutkan nama lengkap bapak saya. hayo, siapa...??
Ruang tempat lomba cerdas cermat kembali penuh dengan tawa melihat tingkah peserta dari Kandangan yang tidak mau kalah.
dr. Agus versus Finalis Cerdas Cermat Kader :D
Akhirnya, setelah 20 pertanyaan dibacakan, Tim Baledono berhasil keluar menjadi juara pertama Lomba Cerdas Cermat Kader Posyandu Balita se-Kecamatan Tosari *prokprokwush*
Betapa terharunya kami saat dr. Agus dan Pak Marno sebagai perwakilan dari Puskesmas berjanji di depan para kader bahwa setelah melihat semangat para kader, Puskesmas akan menjadikan Lomba Kader sebagai program yang akan diadakan secara rutin. Untuk percobaan, akan dilakukan dua tahun sekali.

Tim Baledono

Peserta Final Cerdas Cermat : Tim Kandangan, Tim Tosari, Tim Baledono

Tim Kandangan yang Pantang Menyerah


Pertemuan selanjutnya adalah pada tanggal 1 September lalu, sesuai jadwal pertemuan kader Posyandu balita, dua bulan sekali setiap tanggal 1.
Pertemuan ini sekaligus menjadi pertemuan kader terakhir dengan Pencerah Nusantara angkatan 2 sebelum kami menyelesaikan masa tugas. Maka pertemuan ini menjadi pertemuan yang haru bagi kami. 
Sebelum dimulai, para kader memberikan testmoni berisi pesan dan kesan terhadap PN 2. Senang dan sedih bercampur jadi satu mendengar testimoni-testimoni dari para kader sahabat kami ini. Dalam pertemuan ini, kami juga berkesempatan menerima mahasiswa dari rekan Pencerah Nusantara angkatan 1 (Rahmad Aji-Pemerhati Kesehatan Karawang). Teman-teman mahasiswa Akademi Farmasi Surabaya akan membagikan pengetahuan mengenai pengobatan alami untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Penyuluhan berlangsung seru karena memang tekanan darah tinggi menjadi masalah kesehatan yang banyak terjadi di Tosari. Teman-teman dari Akademi Farmasi Surabaya memberikan pengetahuan baru cara membuat sirup daun salam, keripik daun sirih, teh daun salam, serta beberapa olahan daun salam dan daun sirih yang bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah. Para kader juga bisa mencicipi beberapa produk olahan daun salam dan daun sirih yang dibawa oleh teman-teman dari Akademi Farmasi Surabaya. Selesai penyuluhan, tiba waktunya pemberian sertifikat penghargaan kepada peserta lomba kader dan juga kenang-kenangan pada semua kader.

Sahabat Kami Kader dari Wonokitri

Formasi Lengkap Kader Wonokitri

Sahabat Kami Kader dari Ngadiwono

Sahabat Kami Kader dari Podokoyo

Sahabat Kami Kader dari Tosari

Sahabat Kami Kader dari Kandangan

Sahabat Kami Kader dari Baledono

Bersama Aji (PN 1 Karawang) dan Teman-Teman Mahasiswa AkFar Surabaya
Kami, Tim Pencerah Nusantara, dan dr. Agus sebagai Kepala Puskesmas, menekankan bahwa selembar sertifikat penghargaan mungkin bukan hal yang luar biasa yang bisa kami berikan. Namun nilai dibalik selembar sertifikat penghargaan tersebut, ada rasa terima kasih kami yang sebesar-besarnya untuk para kader yang sudah banyak sekali membantu kami. Kami menyadari, tanpa bantuan para kader kami akan kewalahan menangangi masalah kesehatan masyarakat se-Kecamatan. Kami menyadari, tanpa bantuan para kader kami akan setengah mati memberikan pengetahuan kesehatan bagi masyarakat. Kami menyadari, tanpa bantuan kader kami akan susah payah mengajak warga datang ke Posyandu, mengimunisasi anaknya, dan periksa hamil. Di balik selembar sertifikat penghargaan tersebut, ada begitu besar tanda hormat kami pada pengabdian para kader atas peran mereka sebagai perpanjangan tangan Puskesmas Tosari di masing-masing dusun.
Kami berharap, selembar sertifikat penghargaan tersebut mampu memicu semangat para kader untuk terus mau belajar dan mengabdi tanpa mengharap bayaran. Kami berharap, selembar sertifikat pernghargaan tersebut mampu mengingatkan para kader, perjuangan dan peran mereka dalam menjaga kesehatan ibu dan anak, pengalaman mereka berjumpa dengan Pencerah Nusantara, pengalaman mereka menjadi utusan desa dalam Lomba Tingkat Kecamatan.

Sekali lagi,
Perjumpaan dan persahabatan kami dengan para kader Posyandu balita di Kecamatan Tosari ini mengingatkan kami, bahwa ada banyak juara di sekitar kita.
Ya, para kader ini adalah juaara. Kami telah menemukan mereka. Kami telah merangkul mereka.

Salam dari Tosari,
@kinanthi_only



Saturday, May 31, 2014

Rokok, Riwayatmu Kini (disarikan dari buku A Giant Pack of Lies dan Data WHO)



Tanggal 31 Mei diperingati sebagai World No Tobacco Day. Berbagai kampanye anti rokok dan seruan-seruan untuk berhenti merokok meruak di berbagai kalangan dan daerah. Tapi apakah tren rokok di Indonesia menunjukkan perbaikan, atau justru rokok semakin parah menancapkan candu nikotinnya di bangsa ini ? Tahun 1970 produksi rokok di Indonesa hanya sekitar 30 miliar batang. Tahun 2009, produksi rokok mencapai 240 miliar batang, meningkat 800%. Namun Di saat yang bersamaan, industri rokok di negara maju justru terdesak berbagai hal sehingga terus melempem dan menyusut. Tim analisis Citigroup dalam guardian.co.uk memperkirakan industri rokok akan mencapai titik terendah pada 30-50 tahun mendatang. Data setengah abad itu menunjukkan penurunan jumlah perokok di negara maju yang merosot begitu cepat.
Bagaimana bisa terjadi ketimpangan yang cukup besar ? Menurunnya tren rokok di negara maju disebabkan oleh kesadaran akan pentingnya kesehatan, baik individu maupun publik serta regulasi pembatasan rokok yang kian ketat. Kanada misalnya, mengharuskan gambar peringatan efek rokok bagi kesehatan memenuhi 75 % kemasan. Finlandia, awal 2011, secara resmi merilis peraturan yang didedikasikan untuk mengakhiri rokok 2040. Obama pun kini telah meneken “The Family Smoking Prevention and Tobacco Control Act”. Itu berarti Departemen Makanan dan Obat-obatan Amerika Serikat (FDA) memiliki kewenangan penuh untuk membuat peraturan yang mengontrol konsumsi rokok di kalangan remaja dan anak-anak. Obama paham betul akibat yang ditimbulkan oleh rokok di negaranya. Biaya yang dikeluarkan untuk perawatan kesehatan akibat rokok bisa jadi lebih banyak daripada keuntungan yang diperoleh pemerintah dari cukai rokok. Ia mengungkapkan bahwa kasus kematian akibat rokok di Amerika sebesar lebih dari 400 ribu orang per tahun dan biaya perawatan kesehatan akibat rokok mencapai USD 96 miliar, jumlah yang fantastis.
Oleh karena itu, raksasa industri rokok dunia amat serius menggarap pasar dunia ketiga seperti Cina, Rusia, India, dan Indonesia : populasi besar didukung pula peraturan yang masih bisa dibengkokkan (dengan sentiment nasib petani & buruh industri rokok). Regulasi di Indonesia ? Rata-rata tarif cukai rokok di Indonesia masih rendah dibandingkan negara-negara lain. Ini memungkinkan rokok dijual dengan harga murah, sehingga terjangkau oleh kalangan yang lebih luas. 

Rokok : Permasalahan Kesehatan Masyarakat yang Mengerikan
Menurut data WHO 2014 : Rokok membunuh 6 juta orang setiap tahunnya. Lebih dari 5 juta kematian adalah hasil langsung dari penggunaan rokok, sementara lebih dari 600.000 kematian adalah hasil paparan asap rokok pada perokok pasif.  Ada sekitar satu orang meninggal setiap 6 detik karena penyakit yang terkait rokok. Perokok yang meninggal lebih awal akan menggoncang ekonomi keluarganya, serta meningkatkan biaya kesehatan dan menghambat pertumbuhan ekonomi.
Nasib perokok pasif ternyata juga tak kalah menyedihkan. Pada orang dewasa, asap rokok pada perokok pasif dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular dan pernapasan yang serius, pada bayi asap rokok dapat menimbulkan kematian mendadak, pada wanita hamil dapat menyebabkan bayi yang dilahirkan memiliki berat badan yang jauh lebih rendah. Hampir setengah dari anak-anak menghirup asap rokok secara rutin di tempat umum. Lebih dari 40 % anak paling tidak memiliki satu orang tua yang merokok.

Perkembangan Populasi Perokok di Indonesia
Populasi perokok di Indonesia terus meningkat, tahun 1995 hanya 27 % penduduk Indonesia yang mencandu rokok. 15 Tahun kemudian, Riskesdas Kemenkes 2010 menunjukkan ada 80 juta jiwa atau 34 % penduduk Indonesia mencandu rokok. Ini berarti 1 dari 3 penduduk Indonesia adalah perokok. Masih berdasarkan data Riskesdas Kemenkes RI 2010, dengan produksi 240 miliar batang setahun, setiap perokok di Indonesia diperkirakan menghisap 4000 batang rokok setahun
Bagaimana dengan perokok muda ? Lajunya juga tumbuh dengan pesat. Industri rokok tahu betul perokok muda adalah aset terbesar mereka. Semakin awal seseorang mencoba merokok, semakin sulit ia melepas candu nikotin. Di belahan dunia yang lain, Amerika melarang iklan rokok dalam berbagai format, termasuk di layar televisi. Sementara Indonesia bisa dibilang surganya industri rokok. Industri bisa leluasa mempromosikan bahwa merokok itu keren, cool, dan penuh tantangan. Anak muda adalah investasi industri rokok untuk menjamin bahwa pasar masa depan akan selalu ada.
Philip Morris, menurut Vanguard , penggagas documenter berjudul ‘Sex, Lies, and Cigarettes’, mengeluarkan uang 200 juta dolar amerika untuk pemasaran di Indonesia, khususnya untuk menyuburkan lahan perokok muda, caranya dengan menanam sponsorship di berbagai kegiatan yang disukai anak muda, film, konser, musik, dan olahraga.
“Rokok bisa jadi ancaman, tak main-main, kualitas generasi muda menjadi taruhan apabila tren peningkatan perokok belia ini terus dibiarkan berlanjut”-Hakim Sorimuda Pohan
Anak-anak juga tak lepas dari paparan rokok, keluarga dan masyarakat membombardir anak-anak dnegan kebiasaan merokok, dengan santai menghisap nikotin di depan anak-anak. Faktanya, hanya dalam lima tahun selama 2001-2004, presentase perokok belia (5-9 tahun) meningkat tajam dari 0.,4 menjadi 1,8 persen = 5 kali lipat.

Pentingnya Regulasi

Berbagai gerakan masyarakat yang peduli kesehatan dan menolak rokok telah menjamur. Ini merupakan perkembangan yang cukup positif. Tak sedikit pula anak muda yang gencar mengkampanyean isu anti rokok dengan cara-cara yang kreatif dan menarik. Namun swadaya masyarakat saja jelas tak cukup untuk menekan laju perokok. Dibutuhkan dukungan pemerintah untuk menetapkan regulasi yang kontra rokok. Ada pihak-pihak tak berdaya yang butuh perlindungan dari gempuran rokok yang kian menggila, seperti anak-anak dan remaja.

Salah satu solusi yang ditawarkan WHO dalam kampanye World No Tobacco Day tahun ini adalah meningkatkan pajak. WHO membesut tema "naikkan pajak agar bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa". Meningkatkan pajak rokok dan membuat harga rokok 2 sampai 3 kali lipat lebih mahal adalah cara yang efektif untuk mnurunkan populasi perokok muda. Itu berarti memutus lingkaran setan candu rokok.

Sampai regulasi itu nyata, perjuangan melawan rokok tak akan pernah berhenti...
@banibacan

Saturday, April 26, 2014

Refleksi Hari Kartini : Upaya Menunggu Terbitnya Terang di Tosari





Kami memiliki harapan yang besar bahwa remaja di Tosari akan sadar dan paham tentang kesehatan reproduksi mereka, menikah ketika mereka siap secara fisik dan psikis, menggunakan pendidikan mereka untuk mencari penghasilan, anak-anak mereka pun akan sehat dan sejahtera seperti mereka. Dan yang terpenting, semua ini akan terus berlanjut dari generasi ke generasi.

 
Wanita selalu menjadi sosok menarik di masyarakat, ia memiliki peran domestik yang spesial, tapi ia juga punya kekuatan dahsyat untuk mampu berkarir, berkarya. Dengan dua sisi ini, wanita sangat berpotensi menjadi motor perubahan di masyarakat. Bahkan kesetaraan gender menjadi salah satu goal MDGs, goal ini berusaha meningkatkan peran serta wanita di masyarakat. Investasi pada wanita adalah salah satu kunci untuk mengubah masa depan menjadi lebih baik. Membangun kapasitas wanita adalah pembuka jalan menuju kesejahteraan masyarakat.

Kini, setelah berpuluh tahun berlalu sejak Kartini bersurat dengan sahabatnya di Belanda, surat yang katanya melampaui wanita jaman itu, wujud emansipasi katanya, bagaimana potret wanita di sekitar kita ? Apakah sudah terang seperti judul buku Kartini, habis gelap terbitlah terang, atau masih saja buram.

Saya ingin menceritakan sepenggal fenomena di Tosari, secuil bagian dari Indonesia. Di sini, pergaulan remaja bisa dibilang cukup bebas. Kasus kehamilan sebelum menikah kerap terjadi, pun premarital sex. Setiap kami datang ke posyandu, begitu banyak ibu-ibu muda di bawah usia 20 tahun. Puskesmas juga sering menerima kasus bayi lahir prematur, hampir seluruh bayi prematur ini dilahirkan oleh ibu-ibu berusia muda, kurang dari 20 tahun. Tentunya kemungkinan untuk terjadi kematian bayi akan lebih tinggi pada bayi prematur ini.

Ada lagi fakta yang menarik, kami sempat menyebarkan kuesioner kesehatan reproduksi ke seluruh SMP dan SMA di Tosari. Ternyata dari seluruh sampel yang berjumlah 524, hanya 145 siswa yang mengaku pernah mendapat informasi kesehatan reproduksi dari ayah/ ibunya. Padahal ayah / ibu adalah salah satu sumber informasi kespro yang terpercaya. Kami juga melihat tentang pengetahuan mereka tentang hubungan seks, sebanyak 201 siswa (38%) menganggap bahwa berhubungan seks satu kali tidak akan menyebabkan kehamilan. Selain itu, ada 214 siswa (40%) yang menyatakan bahwa hubungan seks dalam pacaran dapat dibenarkan jika suka sama suka, 94 siswa (18%) setuju bahwa hubungan seks adalah bukti cinta kepada pacar. Gaya pacaran juga berusaha kami gali, sebanyak 112 siswa (21%) pernah memeluk atau dipeluk di pinggang, 131 siswa (25%) ciuman kening, 46 siswa (9%) pernah ciuman di leher, 78 siswa (15%) ciuman bibir, 25 siswa (5%) meraba bagian tubuh, dan 6 siswa (1%) mengaku pernah berhubungan seksual. Hasil ini bisa jadi seperti fenomena gunung es, masih banyak yang tak terlihat, tak terdata. Apalagi masih banyak penduduk berusia remaja yang tidak melanjutkan pendidikan ke SMP atau SMA.

Mengejutkan ? Bagi kami ini sangat mengejutkan. Remaja, di usianya yang menggelora, tak paham dengan batasan pergaulan dan tidak mendapat informasi yang benar mengenai kesehatan reproduksi, hubungan seks yang tidak aman akan sangat mungkin terjadi. Selanjutnya ? seperti yang sudah-sudah, hamil di usia sekolah, menikah, kehamilan dan kelahiran beresiko. Oke, mereka berhasil melahirkan dengan selamat dan bayinya pun sehat, lalu bekal apakah yang mereka gunakan untuk mendidik anaknya, padahal mendidik anak membutuhkan emosi yang matang dan pengetahuan yang cukup. Lalu setelah itu anak mereka bisa jadi mengikuti jejak ayah dan ibunya. Betapa rantai setan ini tak akan pernah putus.

Bagaimana bisa wanita mengambil peran lebih di masyarakat ketika mengurusi keluarga saja sudah kalang kabut, mendidik anak saja tak tahu apa yang harus dilakukan. Padahal unit terkecil dalam membangun masyarakat adalah keluarga dan tonggak penting kualitas keluarga adalah ibu. Ibu merupakan pos pendidikan anak paling awal, baik pendidikan karakter maupun penanaman nilai-nilai yang akan dianut seseorang sampai ia dewasa.

Lalu apa yang bisa kami lakukan untuk memutus rantai setan tersebut ? Investasi sumber daya manusia adalah jawabannya.

Remaja, terutama remaja wanita memiliki peran vital untuk membangun hubungan lawan jenis yang sehat, tanpa perilaku seks beresiko. Asalkan mereka tahu informasi kespro yang benar dan memiliki skill untuk asertif. Kami bersama para pendidik sebaya yang tergabung di Laskar Pencerah berusaha meningkatkan kedua poin penting ini di kalangan remaja. Kami mendorong Laskar Pencerah untuk mampu membagi pengetahuan kespro dan mengingatkan teman-temannya melalui pembelajaran yang dinamis, diskusi kasus, dan usaha kreatif untuk menciptakan media. Sungguh, informasi kespro yang benar adalah hak dari setiap remaja yang memasuki usia produktif. Ketika pendidikan kita masih belum mengintegrasikannya ke kurikulum sekolah, maka kami mencari jalan masuk lain.

Kami memiliki harapan yang besar bahwa remaja di Tosari akan sadar dan paham tentang kesehatan reproduksi mereka, menikah ketika mereka siap secara fisik dan psikis, menggunakan pendidikan mereka untuk mencari penghasilan, anak-anak mereka pun akan sehat dan sejahtera seperti mereka. Dan yang terpenting, semua ini akan terus berlanjut dari generasi ke generasi.

Habis gelap terbitlah terang
Tosari, 25 April 2014, beberapa hari setelah hari Kartini

Bani Bacan Hacantya Yudanagara, S.Psi
@banibacan

Saturday, April 5, 2014

Serunya Ogoh-Ogoh di Tosari

Ogoh-ogoh merupakan sebuah perayaan umat Hindu menjelang hari raya Nyepi. Mayoritas masyarakat Tosari merupakan masyarakat beragama Hindu sehingga kami, tim Pencerah Nusantara, berkesempatan untuk menyaksikan suasana perayaan ogoh-ogoh di Tosari.
Ogoh-Ogoh merupakan karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian "Bhuta Kala" dan sudah menjadi ikon ritual yang secara tradisi sangat penting dalam penyambutan Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka. Fungsi utama "ogoh-ogoh" adalah sebagai representasi Bhuta Kala yang dibuat menjelang perayaan Hari Raya Nyepi, dimana "ogoh-ogoh" tersebut akan diarak beramai-ramai keliling desa, sehari sebelum Hari Raya Nyepi (Pangrupukan). 

Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala melambangkan kekuatan alam semesta (bhu) dan waktu (kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan. Dalam perwujudan patung yang dimaksud, "Bhuta Kala" digambarkan sebagai sosok yang besar menakutkan dan pada umumnya berupa wujud raksasa (rakshasa). Raksasa adalah bangsa pemakan daging manusia atau kadang-kadang sebagai bangsa kanibal dan dilukiskan dalam "Yakshagana", sebuah seni populer dari "Karnataka". Menurut mitologi Hindu dan Budha menyatakan, kata "rakshasa" mempunyai arti "kekejaman", yang merupakan lawan dari kata "raksha" yang artinya "kesentosaan".

Masyarakat Tosari sendiri mempersiapkan ogoh-ogoh sedari 1-2 bulan sebelumnya. Persiapan yang dilakukan antara lain berlatih baleganjur dan membuat patung ogoh-ogoh. Masing-masing desa membuat ogoh-ogohnya masing-masing, kemudian mengarak ogoh-ogoh yang telah dibuat menuju lapangan Tosari. Semua umat tumpah ruah di Lapangan Tosari. Mulai anak-anak sampai warga dewasa. Mulai dari dusun yang dekat sampai dusun yang terjauh. Semua terlihat semangat melihat ogoh-ogoh. Beruntunglah kami karena lapangan tempat berkumpulnya masyarakat ada di depan rumah dinas kami (:  setelah proses ibadah di lapangan Tosari selesai, ogoh-ogoh dibawa kembali ke dusun masing-masing dan kemudian dibakar.

Anyway, membuat ogoh-ogoh tidak bisa sembarangan lho. Butuh keterampilan khusus, bahkan orang-orang yang membuat ogoh-ogoh juga tidak sembarangan. Proses pembuatan ogoh-ogoh butuh kesabaran dan ketekunan dari senimannya. Mulai dari desain, pemilihan bahan, proses menyusun kerangka sampai finishing, semua dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

And, these all that we can share about the celebration of ogoh-ogoh in Tosari. Enjoy (:
Pembuatan Ogoh-Ogoh Dusun Ngawu Desa Podokoyo

Rangkaian Buah untuk Sesajen

Rangkaian Pala Pendem untuk Sesajen
 
Rangkaian Bolu Kukus untuk Sesajen
Sesajen yang Siap di Altar

Rangkaian Janur dan Bambu

Persembahan yang akan Dibakar

Sesajen yang DIletakkan di Sudut Lokasi Ogoh-Ogoh

Pandhita Dusun Tlogosari yang Memimpin Upacara Sebelum Mengiring Ogoh-Ogoh

Ogoh-Ogoh Dusun Tempat Kami Tinggal. Sereeeemmm.....

Para Pandhita yang Bersiap Memimpin Upacara

Barisan Ogoh-Ogoh Siap Memasuki Lokasi

Sebelum Memasuki Lokasi, Ogoh-Ogoh Didoakan Dulu oleh Pandhita

Serem??

Semua Masyarakat Hindu Tumpah Ruah di Lapangan Tosari

Satu Ogoh-Ogoh Diiring oleh Warga Dusun

Bentuk Ogoh-Ogoh sudah Didesain Sejak Lama

Setiap Ogoh-Ogoh Pasti Ada Maknanya

Ini hanya satu dari keunikan tempat kami mengabdi sebagai Tim Pencerah Nusantara. Masih banyak hal menarik yang ada di Tosari. Tertarik? Just come (:

Best regards,
@kinanthi_only