Followers

Wednesday, October 8, 2014

PIJAKAN PERTAMA


Tepat di pukul 09.00, sebuah pesawat penerbangan Air Asia lepas landas di bandara Internasional Airport Juanda di kabupaten Sidoarjo. Hawa panas mulai menusuk sela-sela jaket berwarna biru dongker sebagai sebuah identitas “Pencerah Nusantara”. Cukup mencengangkan juga, bagi kami Pencerah Nusantara III Tosari, mengapa tempat ini dipilih. Pada hakikatnya, daerah ini ada di kawasan pulau Jawa yang akses mengenai apapun sudah sangat mudah. Tapi alasan tentang semua itu adalah rangkaian cerita yang akan mengalir begitu memukau pada tiap lembar kisah dalam tulisan ini.
Pencerah Nusantara 3 Tosari (kanan-kiri : Ida, Rona, Udin, Lyda, Ira)

Pencerah nusantara adalah tim yang beranggotakan 5 orang anak muda dengan latar belakang profesi yang berbeda dikirim ke pelosok atau daerah perifer Indonesia untuk bersama masyarakat disana dalam mengentaskan masalah-masalah kesehatan. Berikut merupakan uraian singkat mengenai anggota tim Pencerah Nusantara III Tosari, yaitu :
·         
  1.  Dokter Muda Udin Shaputra Malik, anak muda kelahiran Makasar tahun 1989. Seorang Team Leader yang sangat luar biasa didukung dengan body language yang apik dan juga kemampuan komunikasi yang memukau
  2. Bidan Muda bernama Lyda Amalia, perempuan berdarah Sunda kelahiran Garut tahun 1994, seorang bocah cilik diantara mereka yang powerfull dan juga candaan yang begitu chic.
  3. Perawat bernama Rona Cahyantari Merduaty, seorang perawat Lulusan Universitas Indonesia kelahiran Jakarta tahun 1991, perawat yang memiliki pemikiran-pemikiran yang di luar orang pada umumnya membuatnya begitu unik. 
  4. Siti Khumaida namun akrab dipanggil Ida ini adalah pemerhati kesehatan dengan konsentrasi pada kesehatan reproduksi. Mreskipun perawakan badannya yang kecil, ia memiliki pembawaan diri yang begitu menarik dan sangat supel membuat siapapun begitu nyaman berkomunikasi 
  5. Septiria Irawati yang biasa dipanggil Ira adalah seorang pemerhati kesehatan  dengan konsentrasi kesehatan lingkungan. Perempuan yang dianggap paling dewasa dalam tim ini memiliki pengalaman yang cukup banyak terkait kemitraan lintas sektor. Hal tersebut membuat ia mampu mengerjakan segala sesuatu dengan enjoy namun terselesaikan dengan sangat rapih.

Perjalanan dilanjutkan menuju Kantor Dinas Kesehatan Pasuruan untuk bertemu dengan pejabat setempat dalam rangka memperkenalkan diri sebagai Tim Pencerah Nusantara Angkatan 3 Tosari. Sambutan yang begitu hangat dalam balutan suasana kekeluargaan membuat kesan pertama untuk kabupaten ini begitu indah. Dilanjutkan dengan perjalanan sore menuju salah satu kecamatan bernama Beji, pemandangan pertama yang disuguhkan adalah hamparan sawah yang membentang dengan latar belakang pegunungan juga jajaran warung makan ikan bakar membuat kami semakin jatuh cinta dengan tempat ini.

Hingga pada akhirnya waktu menunjukan pukul 20.00, 2 mobil melesat menuju sebuah tempat yang menjadi tujuan utama kami. Perjalanan malam yang sangat dingin melewati lembah-lembah dengan jalanan yang sangat berkelok-kelok hampir dengan putaran 270 derajat, membuat sebagian besar dari kami tertidur. Tepat pada pukul 22.00, sampailah kami pada kompleks Puskesmas Tosari, yang di dalamnya terdapat rumah dinas yang akan kami tempati.

Berfoto bersama Pencerah Nusantara 2 Tosari di Dinas Kesehatan Pasuruan


1 tahun pengabdian di Puskesmas Tosari mungkin waktu yang singkat dalam kehidupan kami. Namun, kami yakin 1 tahun kedepan akan menjadi salah satu dari pengalaman hidup terbaik yang akan kami rasakan. Semoga perjalanan selama 1 tahun kedepan untuk membersamai warga Tosari dapat memberikan warna cerah bagi kesehatan masyarakat Tosari.
Tampak depan UGD Rawat Inap Puskesmas Tosari

Kompleks Puskesmas Tosari

Hong Ulun Basuki Langgeng*


*salam khas warga Tengger

@LydaOcha

Sunday, September 28, 2014

Laskar Pencerah Beraksi : Ketika Pemuda Berkarya di Komunitas

Ketika pemuda berkarya di komunitas, maka perubahan akan lebih laju !

Ini adalah kisah Laskar Pencerah Tosari yang memiliki semangat untuk merubah daerahnya menjadi lebih baik, semangatnya dituangkan menjadi ide-ide, ide itu kemudian diwujudkan menjadi karya, di desa masing-masing.

Kisah ini dimulai di akhir
Laskar Pencerah angkatan kedua sudah hampir mencapai titik kelulusan, setengah tahun mereka menempa diri dan belajar banyak hal. Demikian juga Laskar pencerah Angkatan 1, sudah setahun lebih mereka bergelut dengan predikatnya sebagai Laskar Pencerah Tosari. Untuk menyiapkan mereka menjadi panutan dan pemimpin Tosari di masa depan, tak cukup rasanya jika mereka hanya belajar tanpa menyumbangkan sesuatu bagi lingkungannya. Di dua pertemuan terakhir, kami, Pencerah Nusantara Tosari, sengaja memberikan mereka gambaran tentang community development dan community service. Tak hanya berhenti di situ, kami mengenalkan metode kanvas untuk membantu mereka mendiagnosis masalah serta menciptakan langkah nyata untuk merubah keadaan di desanya. Setelah berdiskusi dan mempresentasikan ide-idenya, Laskar Pencerah diberikan kesempatan selama 2 minggu untuk mengimplementasikan ide-ide tersebut.

Contoh Bagian Metode Kanvas

Diskusi berlangsung seru ketika presentasi

Laskar Pencerah Beraksi !


Waktu 2 minggu terasa singkat, satu per satu proyek desa telah terlaksana. Aksi mereka sungguh melebihi ekspektasi kami. Secara mandiri, mereka melakukan advokasi ke pemangku kepentingan, mulai dari kepala desa dan dusun, kepala sekolah, sampai ke bidan desa, semua mereka lakukan sendiri. Melihat mereka merancang kegiatan hingga melakukan eksekusi kegiatan, membuat kami yakin bahwa Laskar Pencerah memiliki semangat luar biasa untuk berkontribusi bagi desanya.

Anggota LP Ngadirejo melaksanakan penyuluhan pergaulan aman dan sehat untuk kalangan remaja di desanya.




LP Baledono menggerakkan siswa madrasah dan remaja dusun Junggo untuk kerja bakti bersama membersihkan sampah di sepanjang jalan.




LP Ngadiwono berbagi insiprasi tentang pentingnya pendidikan lewat pohon cita-cita dan kisah motivasi.




LP Podokoyo mengenalkan bahaya rokok pada anak-anak





LP Puspo melakukan penyuluhan kesehatan reproduksi untuk anak SD




LP Tosari dan Wonokitri menginisiasi bakti sosial untuk kebersihan lingkungan di sekolah dan tempat ibadah. 



LP Mororejo dan Kandangan mengajak anak-anak di desanya untuk menjaga kebersihan lewat lagu yang mereka ciptakan sendiri.

Insight !
Ternyata proyek desa ini sekaligus memberikan banyak pengalaman baru bagi anggota Laskar Pencerah. Di sesi refleksi, berbagai insight bermunculan, deras. Valueb, anggota LP desa Ngadirejo mengaku ia dan kawan-kawan akhirnya tahu bagaimana tantangan melakukan advokasi ke petinggi desa dan mengumpulkan kawan-kawan remaja desanya. Mereka pun belajar menghargai sebuah proses bagaimana acara bisa berlangsung. Anggota LP di Tosari sangat senang dengan apresiasi yang diberikan oleh guru-guru SMP 1, tempat mereka melakukan baksos. Bahkan inisiasi yang mereka lakukan akan dilanjutkan secara rutin oleh pihak sekolah di SMP 1. LP desa Baledono belajar menciptakan gebrakan dan sabar menghadapi anak-anak. Begitu juga Laskar Pencerah di desa lain, mereka belajar mengalahkan rasa takut dan grogi. Mereka belajar melewati batas yang mereka buat untuk dirinya sendiri.

Semoga langkah-langkah kecil ini akan mengawali langkah besar mereka kelak, sebagai pencerah sesungguhnya di komunitas masing-masing.

Salam Pencerah ! Sayonara :)
Bani Bacan Hacantya Yudanagara, S. Psi
@banibacan 

Thursday, September 4, 2014

Kader Posyandu : Pahlawan Kesehatan Tanpa Tanda Jasa

Dalam rangka ikut memeriahkan HUT RI ke 69, Tim Pencerah Nusantara Tosari tidak mau ketinggalan berpartisipasi. Kami berhasil mengajak Puskesmas Tosari dan bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK Kecamatan Tosari untuk mengadakan Lomba Balita Sehat dan Lomba Kader Posyandu Balita. Yang spesial kali ini adalah, Lomba Kader Posyandu Balita tahun ini merupakan lomba yang pertama kali diadakan lagi setelah lebih dari satu dekade tidak dilaksanakan. Maka, tidak heran jika para kader Posyandu balita sangat antusias menyambutnya.

Suasana Registrasi

Pembukaan Lomba
Lomba balita sehat terdiri dari 2 kategori : umur 6-12 bulan, dan umur 13-59 bulan. Masing-masing desa mengirim 1 perwakilan untuk masing-masing kategori, which is, desa juga kami libatkan untuk menyeleksi balita-balita yang ada di daerah mereka untuk diutus sebagai perwakilan desa. Penilaian dilakukan sesuai indikator pertumbuhan dan perkembangan balita sesuai usia. Juri lomba balita adalah Bunda Bidan Koordinator Puskesmas Tosari aka Bu Murtini dan Dokter Ketua Pencerah Nusantara aka dr. Maria.

Penilaian Balita Sehat
 Lomba untuk kader Posyandu balita lebih seru lagi karena kami melibatkan 5 kader untuk masing-masing desa. Hal ini untuk menyiasati pos-pos yang jumlah kadernya terbatas tanpa mengurangi keterlibatan desa untuk berpartisipasi. Alhasil, semua kader di desa bahu membahu memenuhi kuota peserta yang ditetapkan oleh Tim Pencerah Nusantara. Contohnya, kader pos Sedaeng yang hanya 2 orang, akhirnya dengan bantuan bu Inggi (kepala desa) melibatkan serta kader dari pos Moroseneng dan Wonokoyo (yang nun jauh di sana keberadaannya) sebagai utusan dari Desa Sedaeng. Luar biasa...!! Ada 3 lomba untuk kader Posyandu : Lomba penimbangan dan pencatatan (diikuti 1 kader), Lomba cerdas cermat (diikuti 3 kader), dan Lomba penyuluhan (diikuti 1 kader).
Penilaian Penimbangan
Pada lomba penimbangan dan pencatatan, kami menilai keterampilan kader dalam melakukan penimbangan balita dan pencatatan hasil penimbangan di KMS. Juri lomba ini adalah Bidan Pencerah Nusantara, Intan.
Pada lomba penyuluhan, kami menilai keterampilan dan kepercayaan diri kader dalam memberikan penyuluhan di Posyandu. Media lembar balik yang kami sediakan juga bisa dipakai untuk mempermudah kader memberikan materi penyuluhan. Sedikit yang kami sayangkan adalah, kader peserta lomba penyuluhan bukanlah kader yang datang saat pelatihan penyuluhan lalu. Maka, masih banyak kader yang tidak terampil menggunakan lembar balik. Tetapi, kami menghargai usaha dan keberanian para kader peserta lomba penyuluhan. Pak Marno, Pemegang Program Promkes Puskesmas Tosari sekaligus juri Lomba Penyuluhan, sempat memberikan masukan untuk para kader dalam memberikan penyuluhan di Posyandu. Pak Marno juga menunjukkan cara menggunakan lembar balik dengan benar menggunakan bahasa lokal yang dimengerti oleh para kader. Tidak lupa, apresiasi sedalam-dalamnya juga diberikan oleh Pak Marno untuk para kader yang dengan berani mengikuti lomba penyuluhan walaupun masih banyak kekurangan. Dengan kerendahan hati beliau mengakui bahwa setelah sekian lama tidak ada lomba penyuluhan, beliau terharu melihat semangat para kader berpartisipasi dalam lomba tahun ini. Bagi beliau, lomba kader tahun ini menjadi masukan sekaligus pembelajaran bagi Puskesmas Tosari untuk melihat potensi para kader, terutama dari pos-pos yang jauh sehingga mereka pun bisa diikutsertakan jika ada jambore kader di tingkat kabupaten.
Yang paling seru adalah lomba cerdas cermat. Sebanyak 8 desa diadu dalam mengerjakan soal tertulis dimana materi soal tertulis adalah seputar Posyandu, imunisasi, kehamilan dan persalinan, ASI eksklusif, gizi, dan diare. Setelah melalui proses koreksi, 3 tim dengan nilai tertinggi berhak masuk ke babak final. Babak final dilaksanakan setelah lomba penyuluhan selesai. Sembari menunggu ruangan dipersiapkan, bidan Intan memaparkan jawaban-jawaban benar kepada semua peserta agar semua kader mengetahui jawaban pertanyaan ujian tulis dengan benar. Secara umum, ternyata pengetahuan kader mengenai materi soal cukup baik, walaupun perlu dikoreksi di beberapa bagian. Misalnya pada pertanyaan "ASI yang keluar pertama kali dan berwarna kekuningan disebut....", beberapa kader serempak menjawab, "...kolestrum!" Seketika ruangan tempat lomba cerdas cermat jadi penuh dengan gelak tawa. "Yang bener KOLOSTRUM lho yaaa... Bukan KOLESTRUM..." ujar bidan Intan mengoreksi. Tak lama, final cerdas cermat pun dimulai.
Menjawab Soal Tertulis
Suasana mulai tegang. Peserta Tim Kandangan, Tim Baledono, dan Tim Tosari bersiap di meja masing-masing. Pertanyaan dijawab secara berebut dimana jika benar, tim akan mendapat poin 100, dan jika salah, tim akan mendapat pengurangan 10 poin. Kali ini, Kepala Puskesmas Tosari, dr. Agus Tri Cahyono, bertindak sebagai pembaca pertanyaan babak final. Semua peserta penuh semangat menjawab pertanyaan demi pertanyaan. Sampai akhirnya tiba di titik paling heboh....
dr. Agus : nah, ini pertanyaan yang paling sulit nih. siap-siap yaa...
(masing-masing peserta siap membunyikan kenong sebagai bel)
dr. Agus : siapa.... nama lengkap dokter Kepala Puskesmas Tosari?
Tim Tosari : (memukul bel dengan semangat)
dr. Agus : Tosari...?
Tim Tosari : ......
dr. Agus : yak, lempar
Tim Kandangan : (memukul bel dengan semangat) dokter Agus...!!
dr. Agus : Agus siapa nama lengkapnya?
Tim Kandangan : aduh... Agus sapa ya?
dr. Agus : yak, lempar.. Baledono gimana?
Tim Baledono: ..... (ga berani jawab)
dr. Agus : wah gimana ini? saya di sini udah bertahun-tahun ternyata masih belum terkenal.. saya kenalan lagi aja kalo gitu. nama saya Agus Tri Cahyono. jangan lupa yaa.. Tosari dan Kandangan min 10.
Tim Kandangan : waaah... gara-gara Pak Agus nilaiku dikurangi. gantian, Pak. sebutkan nama lengkap bapak saya. hayo, siapa...??
Ruang tempat lomba cerdas cermat kembali penuh dengan tawa melihat tingkah peserta dari Kandangan yang tidak mau kalah.
dr. Agus versus Finalis Cerdas Cermat Kader :D
Akhirnya, setelah 20 pertanyaan dibacakan, Tim Baledono berhasil keluar menjadi juara pertama Lomba Cerdas Cermat Kader Posyandu Balita se-Kecamatan Tosari *prokprokwush*
Betapa terharunya kami saat dr. Agus dan Pak Marno sebagai perwakilan dari Puskesmas berjanji di depan para kader bahwa setelah melihat semangat para kader, Puskesmas akan menjadikan Lomba Kader sebagai program yang akan diadakan secara rutin. Untuk percobaan, akan dilakukan dua tahun sekali.

Tim Baledono

Peserta Final Cerdas Cermat : Tim Kandangan, Tim Tosari, Tim Baledono

Tim Kandangan yang Pantang Menyerah


Pertemuan selanjutnya adalah pada tanggal 1 September lalu, sesuai jadwal pertemuan kader Posyandu balita, dua bulan sekali setiap tanggal 1.
Pertemuan ini sekaligus menjadi pertemuan kader terakhir dengan Pencerah Nusantara angkatan 2 sebelum kami menyelesaikan masa tugas. Maka pertemuan ini menjadi pertemuan yang haru bagi kami. 
Sebelum dimulai, para kader memberikan testmoni berisi pesan dan kesan terhadap PN 2. Senang dan sedih bercampur jadi satu mendengar testimoni-testimoni dari para kader sahabat kami ini. Dalam pertemuan ini, kami juga berkesempatan menerima mahasiswa dari rekan Pencerah Nusantara angkatan 1 (Rahmad Aji-Pemerhati Kesehatan Karawang). Teman-teman mahasiswa Akademi Farmasi Surabaya akan membagikan pengetahuan mengenai pengobatan alami untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Penyuluhan berlangsung seru karena memang tekanan darah tinggi menjadi masalah kesehatan yang banyak terjadi di Tosari. Teman-teman dari Akademi Farmasi Surabaya memberikan pengetahuan baru cara membuat sirup daun salam, keripik daun sirih, teh daun salam, serta beberapa olahan daun salam dan daun sirih yang bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah. Para kader juga bisa mencicipi beberapa produk olahan daun salam dan daun sirih yang dibawa oleh teman-teman dari Akademi Farmasi Surabaya. Selesai penyuluhan, tiba waktunya pemberian sertifikat penghargaan kepada peserta lomba kader dan juga kenang-kenangan pada semua kader.

Sahabat Kami Kader dari Wonokitri

Formasi Lengkap Kader Wonokitri

Sahabat Kami Kader dari Ngadiwono

Sahabat Kami Kader dari Podokoyo

Sahabat Kami Kader dari Tosari

Sahabat Kami Kader dari Kandangan

Sahabat Kami Kader dari Baledono

Bersama Aji (PN 1 Karawang) dan Teman-Teman Mahasiswa AkFar Surabaya
Kami, Tim Pencerah Nusantara, dan dr. Agus sebagai Kepala Puskesmas, menekankan bahwa selembar sertifikat penghargaan mungkin bukan hal yang luar biasa yang bisa kami berikan. Namun nilai dibalik selembar sertifikat penghargaan tersebut, ada rasa terima kasih kami yang sebesar-besarnya untuk para kader yang sudah banyak sekali membantu kami. Kami menyadari, tanpa bantuan para kader kami akan kewalahan menangangi masalah kesehatan masyarakat se-Kecamatan. Kami menyadari, tanpa bantuan para kader kami akan setengah mati memberikan pengetahuan kesehatan bagi masyarakat. Kami menyadari, tanpa bantuan kader kami akan susah payah mengajak warga datang ke Posyandu, mengimunisasi anaknya, dan periksa hamil. Di balik selembar sertifikat penghargaan tersebut, ada begitu besar tanda hormat kami pada pengabdian para kader atas peran mereka sebagai perpanjangan tangan Puskesmas Tosari di masing-masing dusun.
Kami berharap, selembar sertifikat penghargaan tersebut mampu memicu semangat para kader untuk terus mau belajar dan mengabdi tanpa mengharap bayaran. Kami berharap, selembar sertifikat pernghargaan tersebut mampu mengingatkan para kader, perjuangan dan peran mereka dalam menjaga kesehatan ibu dan anak, pengalaman mereka berjumpa dengan Pencerah Nusantara, pengalaman mereka menjadi utusan desa dalam Lomba Tingkat Kecamatan.

Sekali lagi,
Perjumpaan dan persahabatan kami dengan para kader Posyandu balita di Kecamatan Tosari ini mengingatkan kami, bahwa ada banyak juara di sekitar kita.
Ya, para kader ini adalah juaara. Kami telah menemukan mereka. Kami telah merangkul mereka.

Salam dari Tosari,
@kinanthi_only



Saturday, May 31, 2014

Rokok, Riwayatmu Kini (disarikan dari buku A Giant Pack of Lies dan Data WHO)



Tanggal 31 Mei diperingati sebagai World No Tobacco Day. Berbagai kampanye anti rokok dan seruan-seruan untuk berhenti merokok meruak di berbagai kalangan dan daerah. Tapi apakah tren rokok di Indonesia menunjukkan perbaikan, atau justru rokok semakin parah menancapkan candu nikotinnya di bangsa ini ? Tahun 1970 produksi rokok di Indonesa hanya sekitar 30 miliar batang. Tahun 2009, produksi rokok mencapai 240 miliar batang, meningkat 800%. Namun Di saat yang bersamaan, industri rokok di negara maju justru terdesak berbagai hal sehingga terus melempem dan menyusut. Tim analisis Citigroup dalam guardian.co.uk memperkirakan industri rokok akan mencapai titik terendah pada 30-50 tahun mendatang. Data setengah abad itu menunjukkan penurunan jumlah perokok di negara maju yang merosot begitu cepat.
Bagaimana bisa terjadi ketimpangan yang cukup besar ? Menurunnya tren rokok di negara maju disebabkan oleh kesadaran akan pentingnya kesehatan, baik individu maupun publik serta regulasi pembatasan rokok yang kian ketat. Kanada misalnya, mengharuskan gambar peringatan efek rokok bagi kesehatan memenuhi 75 % kemasan. Finlandia, awal 2011, secara resmi merilis peraturan yang didedikasikan untuk mengakhiri rokok 2040. Obama pun kini telah meneken “The Family Smoking Prevention and Tobacco Control Act”. Itu berarti Departemen Makanan dan Obat-obatan Amerika Serikat (FDA) memiliki kewenangan penuh untuk membuat peraturan yang mengontrol konsumsi rokok di kalangan remaja dan anak-anak. Obama paham betul akibat yang ditimbulkan oleh rokok di negaranya. Biaya yang dikeluarkan untuk perawatan kesehatan akibat rokok bisa jadi lebih banyak daripada keuntungan yang diperoleh pemerintah dari cukai rokok. Ia mengungkapkan bahwa kasus kematian akibat rokok di Amerika sebesar lebih dari 400 ribu orang per tahun dan biaya perawatan kesehatan akibat rokok mencapai USD 96 miliar, jumlah yang fantastis.
Oleh karena itu, raksasa industri rokok dunia amat serius menggarap pasar dunia ketiga seperti Cina, Rusia, India, dan Indonesia : populasi besar didukung pula peraturan yang masih bisa dibengkokkan (dengan sentiment nasib petani & buruh industri rokok). Regulasi di Indonesia ? Rata-rata tarif cukai rokok di Indonesia masih rendah dibandingkan negara-negara lain. Ini memungkinkan rokok dijual dengan harga murah, sehingga terjangkau oleh kalangan yang lebih luas. 

Rokok : Permasalahan Kesehatan Masyarakat yang Mengerikan
Menurut data WHO 2014 : Rokok membunuh 6 juta orang setiap tahunnya. Lebih dari 5 juta kematian adalah hasil langsung dari penggunaan rokok, sementara lebih dari 600.000 kematian adalah hasil paparan asap rokok pada perokok pasif.  Ada sekitar satu orang meninggal setiap 6 detik karena penyakit yang terkait rokok. Perokok yang meninggal lebih awal akan menggoncang ekonomi keluarganya, serta meningkatkan biaya kesehatan dan menghambat pertumbuhan ekonomi.
Nasib perokok pasif ternyata juga tak kalah menyedihkan. Pada orang dewasa, asap rokok pada perokok pasif dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular dan pernapasan yang serius, pada bayi asap rokok dapat menimbulkan kematian mendadak, pada wanita hamil dapat menyebabkan bayi yang dilahirkan memiliki berat badan yang jauh lebih rendah. Hampir setengah dari anak-anak menghirup asap rokok secara rutin di tempat umum. Lebih dari 40 % anak paling tidak memiliki satu orang tua yang merokok.

Perkembangan Populasi Perokok di Indonesia
Populasi perokok di Indonesia terus meningkat, tahun 1995 hanya 27 % penduduk Indonesia yang mencandu rokok. 15 Tahun kemudian, Riskesdas Kemenkes 2010 menunjukkan ada 80 juta jiwa atau 34 % penduduk Indonesia mencandu rokok. Ini berarti 1 dari 3 penduduk Indonesia adalah perokok. Masih berdasarkan data Riskesdas Kemenkes RI 2010, dengan produksi 240 miliar batang setahun, setiap perokok di Indonesia diperkirakan menghisap 4000 batang rokok setahun
Bagaimana dengan perokok muda ? Lajunya juga tumbuh dengan pesat. Industri rokok tahu betul perokok muda adalah aset terbesar mereka. Semakin awal seseorang mencoba merokok, semakin sulit ia melepas candu nikotin. Di belahan dunia yang lain, Amerika melarang iklan rokok dalam berbagai format, termasuk di layar televisi. Sementara Indonesia bisa dibilang surganya industri rokok. Industri bisa leluasa mempromosikan bahwa merokok itu keren, cool, dan penuh tantangan. Anak muda adalah investasi industri rokok untuk menjamin bahwa pasar masa depan akan selalu ada.
Philip Morris, menurut Vanguard , penggagas documenter berjudul ‘Sex, Lies, and Cigarettes’, mengeluarkan uang 200 juta dolar amerika untuk pemasaran di Indonesia, khususnya untuk menyuburkan lahan perokok muda, caranya dengan menanam sponsorship di berbagai kegiatan yang disukai anak muda, film, konser, musik, dan olahraga.
“Rokok bisa jadi ancaman, tak main-main, kualitas generasi muda menjadi taruhan apabila tren peningkatan perokok belia ini terus dibiarkan berlanjut”-Hakim Sorimuda Pohan
Anak-anak juga tak lepas dari paparan rokok, keluarga dan masyarakat membombardir anak-anak dnegan kebiasaan merokok, dengan santai menghisap nikotin di depan anak-anak. Faktanya, hanya dalam lima tahun selama 2001-2004, presentase perokok belia (5-9 tahun) meningkat tajam dari 0.,4 menjadi 1,8 persen = 5 kali lipat.

Pentingnya Regulasi

Berbagai gerakan masyarakat yang peduli kesehatan dan menolak rokok telah menjamur. Ini merupakan perkembangan yang cukup positif. Tak sedikit pula anak muda yang gencar mengkampanyean isu anti rokok dengan cara-cara yang kreatif dan menarik. Namun swadaya masyarakat saja jelas tak cukup untuk menekan laju perokok. Dibutuhkan dukungan pemerintah untuk menetapkan regulasi yang kontra rokok. Ada pihak-pihak tak berdaya yang butuh perlindungan dari gempuran rokok yang kian menggila, seperti anak-anak dan remaja.

Salah satu solusi yang ditawarkan WHO dalam kampanye World No Tobacco Day tahun ini adalah meningkatkan pajak. WHO membesut tema "naikkan pajak agar bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa". Meningkatkan pajak rokok dan membuat harga rokok 2 sampai 3 kali lipat lebih mahal adalah cara yang efektif untuk mnurunkan populasi perokok muda. Itu berarti memutus lingkaran setan candu rokok.

Sampai regulasi itu nyata, perjuangan melawan rokok tak akan pernah berhenti...
@banibacan